Viral Video Hastag ‘Nola Cicipi’, Pemuda Nisel : Video itu Tak Mendidik dan Kental Nuansa Politik

0
Pendiri Paguyuban Masyarakat Nias Indonesia (PMNI) Kabupaten Karimun Leo Halawa, SH saat diwawancarai wartawan di Batam. Ia menyoroti video 'Nolacicipi' yang sedang dikontes di media sosial Facebook. (LKN/A Chan)

BATAM, LIPUTANKEPRINEWS.COM – Dua hari terakhir ini, viral video kontes Hastag ‘Nola Cicipi’ di media sosial khusus Facebook. Dalam video berdurasi sekitar 1-2 menit itu diduga sengaja dibuat untuk kontes mendukung salah satu bakal calon kepala daerah Kabupaten Nias Selatan Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan hasil penelusuran wartawan, di akun Facebook Idealisman Dachi diunggah beberapa potongan video dengan Hastag ‘Nola Cicipi’. Unggahan tersebut, pertama kali diunggah oleh pemilik akun Ideal Tema. Berisikan sepotong video berdurasi 1 menit 13 detik, berisikan kontes video ‘Nola Cicipi’.

Kemudian, akun Idealisman Dachi yang diduga milik mantan Bupati Nias Selatan periode 2011-2016 Idealisman Dachi menuliskan caption video : Hahaha…kocak Banget,
Ini calon Juara…
Modokia ita ibe..🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 (disertai 8 emoji ketawa).

Tak hanya itu, beberapa video serupa juga ditemukan di akun Facebook Ideal Tema tersebut. Isi video, mengangung-agungkan visi-misi Idealisman Dachi saat menjabat Bupati Nias Selatan 2011-2016 lalu.

Terkait kontes video tersebut, mendapat sorotan dari berbagai pihak. Salah satunya, dari Pendiri Paguyuban Masyarakat Nias Indonesia (PMNI) Kabupaten Karimun Leo Halawa. Menurut pemuda asal Nias Selatan ini, katanya, video tersebut tidaklah mendidik. Bahkan kata dia, kental dengan nuansa politik menyesatkan.

“Saya tidak ada urusan dengan politik apa pun di Nias Selatan. Tetapi, video yang beredar dengan judul ‘Nola Cicipi’ adalah narasi yang tidak membangun, tidak mendidik. Sebab alasan pertama, jika artikan kata bahasa Nias ‘nola cicipi’ ke bahasa Indonesia mengandung arti ‘Sudah dicicipi’. Apanya yang dicicipi? Kami peringatkan ke pejabat mana pun, bahwa program yang diberikan ke masyarakat adalah hasil dari pajak rakyat. Jadi jangan terlalu umbar soal kata ‘Nola Cicipi’. Gaji anda, tunjangan anda dari pajak rakyat. Bukan sebaliknya,” jelas pria yang juga Ketua Umum Gerakan Angkatan Muda Nias Indonesia (GAMNIS) itu, Rabu (1/7/2020).

Tambah Leo Halawa, kata cicipi berasal dari asal kata ‘cicip’. Dan dalam definisi/arti kata di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah ‘cicip’ adalah coba untuk merasai atau bila ditambahkan kata kerja menjadi ‘mencicip’. Hal ini kata Leo, semestinya jika pemilik akun tersebut diperkirakan akan maju lagi sebagai bakal calon Bupati Nias Selatan periode 2020-2025 mengambil hati masyarakat dengan cara-cara yang santun dan mendidik.

Dia menambahkan, bagi siapa saja yang akan bertarung di Pilkada Nias Selatan tidak dilarang. Hanya saja, ia meminta edukasi politik yang membangun. Menurutnya, jika ada seorang kepala daerah hanya mengandalkan visi gratis uang sekolah dari SD, SMP, SMA di Nias Selatan bukan hal yang luar biasa. Sebab menurutnya, ukuran keberhasilan kepala daerah bukan semata-mata mengelola APBD yang sudah ditakar oleh pemerintah pusat.

“Tetapi bagaimana ia menciptakan lapangan kerja, mendatangkan investor, membangun infrastruktur secara merata, penataan pemerintahan yang baik, mengharamkan KKN, itu baru namanya pemimpin top. Kalau hanya mengandalkan gratis uang sekolah beberapa daerah lain juga di Indonesia menggratiskan hal yang sama. Dan itu garis komando pemerintah pusat. Dan juga soal pendidikan dan kesehatan hal fundamental yang diatur dalam UUD 1945 kita. Tapi mereka biasa-biasa saja. Tidak sok hebat mereka, dan tidak dijadikan alat politik ke masyarakat,” tambah dia.

Ia menambahkan, meminta masyarakat agar jangan mau dibohongi atau diiming-imingi sesuatu oleh pihak calon kepala daerah tertentu. Ia misalkan uang sekolah SMA/sederajat khusus Negeri. Sejak tahun 2017 lalu, SMA/sederajat sudah menjadi wewenang pemerintah provinsi.

Dan sebagian di wilayah hukum pemerintahan Povinsi Sumatera Utara, menggratiskan uang sekolah. Yang menjadi wewenang pemerintah daerah adalah mulai dari tingkat TK, SD, SMP/sederajat.

“Jadi jangan mau dibohongi. Masyarakat harus bisa filter calon yang layak didukung. Lihat track recordnya. Janji janji manis gampang saja. Lidah ini tidak bertulang. Saya sebagai pemuda Nias Selatan punya beban moral meluruskan ini. Kontes video ‘nola Cicipi’ berlebihan,” ujarnya.

Leo mengatakan, jika Tuhan memang menghendaki siapa saja bakal calon Bupati dan wakil bupati bakal pasangan calon yang menang, ia minta untuk menata dan mendata kembali program kuliah gratis. Salah satunya, mendata kembali beberapa mahasiswa USBM asal Nias Selatan yang sempat terhenti kuliah beberapa tahun lalu.

“Kita doakan siapa pun yang menang nanti, agar fokus tangani USBM itu. Bukan malah mengumbar kata ‘nola cicipi’. Jangan lupa bahwa, gaji anda berasal dari pajak rakyat. Jadi program atau kebijakan apa pun anda hanya menjalankan mandat undang-undang. Pejabat apapun, dia adalah pelayan masyarakat bukan sebaliknya. Jadi mohon, saudara saya yang ada di Nias Selatan jangan mau dibodoh-bodohi dengan kontes yang kurang mendidik itu,” kata dia.

Minta Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara dan Bawaslu Bertindak

Masih dengan Leo. Kata dia, apa lagi video yang beredar diduga sengaja dibuat untuk kontes. Dalam video yang beredar, disebutkan jumlah uang dalam rupiah. Bagi pemenang akan dijanjikan sejumlah duit.

Menurut Leo, hastag ‘nola Cicipi’ kental dengan nuansa politik. Sehingga katanya, tidak salah jika meminta Ditreskrimsus Polda Sumatera Utara dan Bawaslu Sumatera Utara untuk melakukan upaya Lidik terhadap video yang beredar. Jika terdapat unsur tindakpidana maka ia minta segera memproses pemilik akun yang beredar di media sosial Facebook.

“Kan ini cara-cara tak baik menurut saya. Maka untuk itu, kami masyarakat juga meminta pak penyidik dan Bawaslu Sumatera Utara melakukan melakukan lidik terhadap akun-akun yang memuat video ‘Nola Cicipi’ itu. Karena, patut kami duga video itu sengaja dibuat untuk mendukung salah satu calon yang disebut-sebut namanya dalam video. Dan menurut hemat kami, adalah salah satu poin pelanggaran pemilu,” pinta Leo.

Leo tidak berspekulasi siapa yang membuat kontes vide hastag ‘nola Cicipi’. Hanya saja, ia meminta masyarakat Nias Selatan agar bijaksana menerima ajakan suatu kontes. Sebab kata dia, jangan sampai hal itu menjadi senjata makan tuan.

Leo mengaku, memang tidak berdomisili di Nias Selatan. Tetapi, jiwanya sebagai pemuda Nias Selatan yang berdomisili di Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) bangkit ketika melihat ada kejanggalan pada kontes video itu. Dan ia punya beban moral meluruskan itu.

“Makanya saya bilang, saya tidak urusan politik di sana. Siapa saja bupati jika kehendak masyarakat dan tentu kehendak Tuhan silahkan. Tapi karena video yang beredar menyangkut di media sosial dan juga kehidupan orang dan saudara saya di kampung, maka menurut kami harus diluruskan. Agar tidak menimbulkan pembenaran bagi mereka yang mempolitisasi hastag ‘nola Cicipi’ itu,” katanya.

Hingga berita ini dimuat, wartawan masih berupaya menghubungi Idealisman Dachi guna konfirmasi lebih lanjut.(red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here