Foto Bareng – Tahir Ferdian, Pengacara Supriyadi SHI MH, Abdul Kodir Batubara SH, keluarga dan kerabat foto bareng di depan Pengadilan Negeri Batam yang terletak di Jalan Engku Putri Batam, Kepri usai sidang Kamis (5/12) siang. ( A Chan)

BATAM, LIPUTANKEPRINEWS.COM – Ucapan syukur yang tak terhingga pecah di ruang persidangan Mudjono Pengadilan Negeri Batam, Kamis (5/12) siang. Ucapan berkali-kali itu datang dari Enny Halim istri Tahir Ferdian alias Lim Chong Peng. Enny berucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas vonis bebas terhadap suaminya.

“Terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan. Keadilan dan kebenaran akan bicara pada saatnya. Terima kasih buat doanya semua. Terima kasih kepada bapak-ibu hakim dan kepada semua yang telah mendoakan,” kata-kata Enny Halim seraya memeluk erat suaminya dengan mata berkaca-kaca usai vonis dibacakan hakim.

Tangisan haru atas ridho Tuhan kepada Tahir Ferdian  lagi-lagi pecah di ruang persidangan itu. Anak Tahir, keluarga, kerabat, pengacara Supriyadi SHI MH dan Abdul Kodir Batubara SH yang hadir di persidangan saling berpelukan haru usai sidang. Mereka seraya berucap ucapan syukur kepadaTuhan.

“Terima kasih Tuhan! Keadilan ternyata menemukan jalannya sendiri. Pak Tahir yang dituduh melakukan penggelapan ternyata tidak benar. Makasih,” kata kerabat lainnya dengan suara lantang.

Vonis bebas dengan nomor perkara nomor 731/Pid.B/2019/PN.Btm dibacakan oleh Ketua majelis hakim Dwi Nuramanu. Didampingi anggota majelis Taufik Abdul Halim Nainggolan dan Yona Lamerosa Ketaren. Yang dihadiri perwakilan JPU Rosmalina Sembiring. Dwi Nuramanu menguraikan fakta-fakta dan alasan yuridis atas tuntutan JPU kepada Tahir Ferdian.

Dalam putusan itu secara garis besar, Tahir Ferdian tidak terbukti melakukan penjualan mesin dan aset perusahaan. Mesin itu hanyalah dipindahkan ke gudang saksi Willian yang berada di Bukit Senyum Batam. Dan saksi Willian sudah menegaskan pula pada saat di persidangan bahwa tidak benar tuntutan JPU. Bahkan Willian mengatakan, barang berupa mesin pabrikasi plastic itu jika diambil suatu waktu tidak ia permasalahkan. Sehingga tuntutan JPU pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dalam jabatan terbantahkan semua.

“Membebaskan terdakwa dari dakwaan  penuntut umum, membebaskan terdakwa dari seluruh dakwaan tersebut, memulihkan harkat serta martabat terdakwa, memerintahkan Jaksa penuntut umum membebaskan terdakwa, barang bukti berupa dikembalikan kepada terdakwa,” kata hakim Dwi Nuramanu saat membacakan putusan.

Sementara itu, Supriyadi dan Abdul Kodir Batubara sejak awal sudah berkeyakinan kliennya bebas demi hukum. Bukan tanpa alasan, Supriyadi mengemukakan, saham PT Taindo Citratama yang menjadi objek perkara itu sudah dimiliki 100 persen oleh kliennya Tahir Ferdian.

“Kalau kemudian klien kami melakukan pengurusan barang itu apakah salah? Tentu tidak. Majelis hakim dalam memutus perkara ini menjadi vonis bebas sudah tepat dan beralasan hukum,” ujar Supriyadi pengacara ternama yang  berkantor di ibu DKI Jakarta itu.

Abdul Kodir menambahkan, perkara itu berawal pada tahun 2002 silam, Ludjianto Taslim datang kepada kliennya Tahir. Bertujuan meminta bantuan menebus aset PT Taindo Citratama di Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) senilai Rp9 miliar.

“Sejumlah uang itu, sebesar Rp1,2 miliar untuk perbaikan gedung, dan Rp7,5 miliar untuk modal kerja. Semua uang ini dikeluarkan oleh klien kami atas permintaan Ludjianto Taslim. Nah, pada saat itu klien kami Tahir menyanggupi membayar semua ini. Dengan catatan sebesar saham 50 persen diberikan kepada klien kami. Dan kedua belah pihak sepakat untuk itu,” papar Abdul.

Namun, sejak 2002 sampai dengan 2016 menurut penuturan Abdul Kodir, Ludjianto Taslim tidak pernah mengurus perusahaan yang bergerak di bidang pabrik plastik itu yang berada di Sekupang, Batam, Kepri.

Masih dengan penjelasan Abdul Kodir. Katanya, setelah kedua berpartner, Ludjianto Taslim datang kepada kliennya Tahir Ferdian. Dengan tujuan meminjam uang sebesar sekitar Rp1 Milar. Saat itu, Tahir menyanggupi. Dengan kesepakatan, peminjaman uang senilai tersebut Ludjianto Taslim menggadaikan saham miliknya sebesar 50 persen.

“Dan pada perjanjian, apabila tidak dibayar maka saham 50 persen milik klien kami. Nah jika dihitung, saham klien kami 50 persen ditambah saham yang digadaikan menjadi milik klien kami sebesar 50 persen, total 100 persen. Dan saham 100 persen ini sudah menjadi milik klien kami. Lalu pertanyaannya, jika klien kami mengurus seluruh aset, memperbaiki, memindahkan apakah salah? Tentu tidak. Jadi, Sejak 2003 tak ada sepersen pun uang Ludjianto Taslim keluar,” urai Abdul kodir lagi.(A Chan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here